Kala itu, selepas adzan Shubuh di akhir bulan Juli dua puluhan tahun lalu, seorang anak terakhir dari keluarga Muchtar & Rima terlahir. Tangisnya mencabik-cabik kehening Shubuh sambil disambut gelak tawa dan senyum sumringah orang-orang diruangan 3 x 4 meter sebuah rumah sakit kecil di pinggiran Jakarta Barat.

Setahun, dua tahun, tiga tahun, hingga akhirnya sang anak tumbuh menjadi sosok yang berbeda dari kebanyakan anak-anak sebanyanya. Si bungsu senang sekali bercerita, berceloteh, bergaya ala publik figure yang dilihatnya di televisi sehingga membuat orang-orang disekelilingnya selalu tertawa melihat tingkah menggemaskannya.

Diusia ke-5 tahun sang anak tumbuh sebagaimana anak lainnya. Nakal? Ya, mungkin bisa dikatakan begitu. Tapi masih dalam taraf nakalnya anak-anak. Main ini, main itu. Lari kesini, lari kesitu. Sampai diwaktu yang sama dengan detik kelahirannya, selepas shubuh, sang ibu benar-benar dikagetkan dengan tangisan si bocah imut yang terbaring dikamar sempitnya. Sang ibu, masih menggunakan mukenanya—selesai shalat Shubuh—segera menghampiri sang anak. Sang ibu bertanya, “Ada apa, Nak?” si anak pun menjawab diselingi isak tangisnya, “Aku ingin sunat, Bunda!”

Continue reading