(Tim KKN 167 / KKS Sibermas Gorontalo 2010)

# Tulisan Ini Pernah Saya Ikutkan Dalam Lomba XL 2010 dan Alhamdulillah Masuk dalam 10 Besar*

Oleh: Marzuki Riansyah

Gorontalo seakan telah mengintip di jendela pikiran penulis beserta 22 orang teman lain yang hendak melakukan sebuah misi ‘pembebasan’ di provinsi yang terbilang muda itu. Bagi penulis, misi keberangkatan kami ke Gorontalo memang bukan misi yang main-main. Kami hadir disana untuk melaksanakan Kuliah Kerja Nyata sebagai bagian dari bentuk pengabdian kami sebagai mahasiswa terhadap masyarakat secara lebih nyata, dan secara khusus sebagai bagian dari prasyarat mata kuliah wajib yang harus kami ambil guna merampungkan proses belajar kami dikampus.

Gorontalo menjadi pilihan teramat menarik karena memiliki potensi alam luar biasa yang patut untuk dikembangkan. Barangkali siapapun pernah mendengar bahwa Gorontalo merupakan lumbung jagungnya Indonesia. Kota jagung, ya Gorontalo! Sayangnya image kota jagung yang selama ini didengung-dengungkan santer ke penjuru nusantara tidak sepenuhnya berpengaruh terhadap peningkatan kehidupan ekonomi masyarakat, karena realitanya banyak diantara petani jagung yang menjadikan jagung hanya sebagai ‘jagung’, yang fungsinya hanya terbatas pada pemenuhan kebutuhan pribadi, tanpa terpikir aspek ekonominya yang lain.

“Mau gimana lagi, Mas. Kalau dijual, justu kami malah rugi. Harga jual ke para tengkulak tidak sebanding dengan biaya yang kami keluarkan untuk memelihara tanaman jagung,” begitu papar Pak Ruslim kepada salah seorang teman penulis saat melakukan survey.

Kondisi itulah yang mendasari penulis dan tim menitiberatkan program-programnya pada upaya peningkatan kehidupan ekonomi masyarakat. Hingga pada akhirnya tercetuslah ide doli-doli, yakni dodol jagung, yang kami harapkan dapat menjadi icon Gorontalo. Ke Gorontalo tanpa membawa doli-doli terasa kurang, begitu pikir kami. Ide ini menengok dari beberapa daerah yang ada di Indonesia, semisal Garut dengan dodol Garutnya, Sumedang dengan tahunya, Jogja dengan bakpianya, atau Semarang dengan lumpianya.

***
                                                                 (Menara Limboto)

Tepatnya tanggal 23 Januari 2000 Gorontalo resmi berpisah dari provinsi Sulawesi Utara untuk membentuk provinsi sendiri sebagai bagian dari penerapan sistem otonomi daerah yang pada tahun-tahun tersebut menjadi berita hangat di media dan perbincangan sejumlah lapisan kalangan sebagai buah tangan reformasi. Sebagai provinsi muda, tentu banyak stategi yang harus dijalankan guna mengembangkan diri sebagai provinsi yang mandiri. Salah satu industri yang sangat berperan bagi proses pengembangan tersebut adalah industri seluler. Tanpa telekomunikasi, sulit rasanya menjual potensi lokal kepada pihak luar.

Pada kesempatan itu penulis dan tim ditempatkan di kecamatan Bongomeme. Salah satu kecamatan yang terletak di Kabupaten Gorontalo. Jaraknya sekitar 20 Km dari ibukota kabupaten. Untuk menuju ke kecamatan Bongomeme kita dapat menggunakan beberapa alat transportasi, diantaranya mengendarai angkot berwarna biru yang biasa mangkal di pasar Bongomeme, bersebelahan dengan kantor desa Bongomeme. Bisa juga naik angkot yang juga berwarna biru di daerah Isimu, yang jaraknya sekitar 7 Km dari pasar Bongomeme. Namun, dari semua transportasi umum yang ada di kecamatan itu, yang paling praktis ya naik bentor, sebuah becak yang didorong oleh motor. Itu adalah kendaraan khas Gorontalo, dan menurut penuturan beberapa tukang bentor yang pernah penulis tumpangi, bentor pertama kali hanya ada di Gorontalo, tetapi kini sudah mulai dikirim ke beberapa daerah seperti Makasar dan Manado.

Kecamatan Bongomeme sendiri terdiri dari 19 desa, antara lain desa Bongomeme, Dungaliyo, Duwanga, Hontulohulawa, Dulamayo, Ambara, Bongohulawa, Upomela, Tohupo, Batu Loreng, Molanihu, Molpatodu, dan Batu Layar. Diantara desa-desa yang ada di kecamatan Bongomeme, desa Batu Loreng menjadi desa yang begitu ‘menyeramkan’ bagi penulis dan tim. Desa Batu Loreng merupakan desa terpencil, yang alamnya sulit diprediksi, begitu kata seorang staf kecamatan yang pernah berkunjung ke desa tersebut.

“Di Batu Loreng itu jalannya masih berbatu-batu, belum diaspal. Belum ada listrik di sana. Hanya obor dan lampu minyak yang menerangi, itupun kalau minyak harganya sedang tidak naik dan sedang tidak langka. Kalau sedang langka dan naik harga, Batu Loreng seperti desa tak bercahaya, kecuali cahaya bintang dan bulan saja. Jembatan penghubungnya dengan desa Tohupo (desa tetangga-pen) juga terputus karena banjir besar,” papar seorang staf kecamatan panjang lebar. Penulis langsung melayangkan imajinasi mengerikan jika sampai ditempatkan di desa tersebut. Maklum, selama ini penulis belum pernah menemukan daerah seterpencil itu.

Batu Loreng

“Dan satu lagi, disana tidak ada sinyal! Jadi kalau mau cari sinyal mesti turun ke desa bawah, yakni desa Tohupo, itupun Tohupo yang hampir berbatasan dengan desa Upomela, karena daerah sebelum perbatasan tidak ada sinyal juga,” tambah staf kecamatan berkumis tebal itu.
“Sempurna!” ujarku spontan mendengar penjelasan tambahan bapak berkumis tebal tadi.

Setelah berdiskusi dan ‘bernegosiasi’ hebat dengan anggota tim lainnya akhirnya ‘mimpi buruk’ itu datang juga. Penulis dan dua orang teman dari tim kami ditambah dua orang mahasiswa lokal yang ikut serta dalam kegiatan ini yang diberi anugerah untuk ditempatkan di desa Batu Loreng. Alasannya sederhana, kami dianggap sebagai prototype laki-laki tangguh yang biasa beradaptasi dengan ganasnya alam.

***

Ternyata semua yang diceritakan Pak Kumis (sebutan penulis secara pribadi pada bapak staf tersebut-pen) di kantor kecamatan tempo hari tidak salah. Kenyataannya memang begitu. Desa batu Loreng menjadi desa terparah yang pernah penulis datangi selama ini. Jalan berbatu-batu yang sangat licin ketika hujan, jembatan penghubung yang terputus, sungai berarus deras yang sewaktu-waktu dapat memangsa siapapun yang terkena arusnya, listrik yang belum masuk, dan yang perlu dicatat: TIDAK ADA SINYAL! Padahal untuk menjalankan segala program Kuliah Kerja Nyata, kami sangat membutuhkan sarana telekomunikasi agar lebih mudah, menghubungi-dihubungi pembicara untuk program pelatihan, penyuluhan ekonomi dan pertanian, dan aktivitas penting lainnya.

Selama dua bulan tinggal di desa tersebut menyadarkan penulis ternyata masih ada daerah yang sebegitu terisolir dari daerah sekitarnya. Batu Loreng sendiri terdiri dari empat dusun, yakni dusun Bula, dusun Batu Loreng, dusun Dulopia Barat, dan dusun Bilato. Jarak antar dusun pun tidak main-main. Sekitar 5-10 Km, itupun perlu perjuangan keras karena kita harus melewati derasnya arus sungai, bukit-bukit menjulang ke langit, dan perkebunan kelapa dan jagung yang terhampar luas.

Penulis dan empat orang teman lainnya ditempatkan di dusun Bilato dengan alasan di dusun itulah kantor desa bertempat. Jika ada rapat warga atau kegiatan desa, warga dari dusun lain akan berbondong-bondong ke dusun Bilato, ke kantor desa.
Perjalanan

Perjalanan

(Survey Desa Pertama–Sambil Cari Sinyal)

Ketika penulis dan empat teman lainnya berkesempatan melakukan survey dari dusun ke dusun, penulis menemukan realita yang begitu pahit. Sebagian besar masyarakat desa masuk dalam kategori miskin, bahkan yang lebih mencengangkan ada kepala keluarga yang berpendapatan Rp25.000 perbulan. Penulis tidak habis pikir bagaimana bisa mereka hidup dengan uang sebesar itu, padahal tingkat harga di Gorontalo tidak jauh berbeda dengan daerah asal penulis, Jakarta.

Potensi kekayaan alam luar biasa yang ada di desa Batu Loreng tenyata tidak sepenuhnya mampu dimanfaatkan oleh warga. Kelapa dan jagung menjadi dua potensi pertanian yang sangat tumbuh subur di tanah Batu Loreng, sedangkan untuk bidang peternakan, masyarakat sangat mengandalkan diri pada peternakan sapi pedaging, bukan sapi perah. Alhasil, mereka hanya bisa merawat hingga besar untuk kemudian dijual ke pasar Bongomeme yang ada setiap Rabu dan Sabtu.
Menurut penuturan warga, kebanyakan dari mereka bingung untuk memasarkan hasil buminya. Faktor yang paling menghambat semua itu adalah tidak adanya sinyal di desa mereka, kalaupun ada mereka harus berletih-letih ria mendaki bukit sekedar mencari sinyal. Betapa mahalnya harga sebuah sinyal di desa ini sampai-sampai mengalahkan harga segala sesuatu, baik harta, benda, tenaga, bahkan yang paling ekstreem: NYAWA, karena risiko mendaki bukit setinggi 30 hingga 40 meter bukanlah hal sepele.

Penulis sempat menanyakan tentang masalah sinyal ini ke beberapa warga, mereka mengatakan bahwa alat penangkap sinyal milik salah satu operator seluler nasional yang ada di desa sebelah (Desa Tohupo-pen) sudah rusak dan tidak berfungsi lagi. Alhasil setiap kali butuh komunikasi dengan sanak saudara yang ada dimanapun, mereka rela berletih-letih ria berjalan kiloan meter ke desa seberang atau paling mudah mendaki bukit tinggi yang membatasi desa Batu Loreng dengan pantai yang ada di baliknya.
Ternak Sapi

Ternak Sapi

Bapak Lukman Ibrahim atau biasa kami panggil Papi sering mengeluhkan belum tersedinya instalasi telekomunikasi yang ada di daerah sekitar, sehingga beliau harus ‘turun gunung’ ke desa seberang setiap kali ingin mencari sinyal. Bapak Lukman yang seorang pebisnis sapi menuturkan, jika di desa tersebut ada sinyal, sangat mungkin bisnis sapinya menjadi maju dan berkembang. Kendala yang selama ini terjadi, pelanggan kesulitan menghubungi beliau karena tidak adanya sinyal di desa tempatnya tinggal.

Penulis jadi berpikir panjang tentang masalah sinyal ini. Jangan-jangan tidak adanya sinyal menjadi kontributor terbesar bagi permasalahan kemiskinan warga. Bukannya apa-apa, karena sebagian mereka mengeluhkan kesulitan memasok hasil tani mereka kepada para pemborong lantaran ketinggalan informasi tentang kedatangan pemborong yang tidak bisa diprediksi. Jika pun harus dijual di pasar, tentu penghasilan yang didapatkan tidak seberapa. Dengan situasi tersebut penulis menjadi sedikit pesimis dengan program pengembangan doli-doli (dodol jagung-pen) yang akan kami laksanakan, khawatir tidak dapat berjalan dengan baik, padahal harapan kami setiap desa bisa memiliki UKM atau sentra induk pembuatan doli-doli yang kemudian berfungsi sebagai corong pemasaran produk tersebut, namun jika tidak ada sinyal begini bagaimana bisa warga berinteraksi dengan konsumen yang akan memesan produk mereka?

***

Penulis membayangkan, jika saja ada perusahaan seluler yang ‘ikhlas’ bersedia menginvestasikan dananya guna pembangunan BTS (Base Transceiver Station) di daerah sekitar desa Batu Loreng, atau paling tidak di kecamatan Bongomeme, tentu manfaat ekonominya bagi kedua belah pihak, baik warga maupun perusahaan seluler, akan sangat luar biasa. Bagi warga saja, manfaat ekonomi ini dapat dibedakan menjadi dua. Pertama, manfaat ekonomi pembangunan BTS secara fungsional. Kedua, manfaat ekonomi pembangunan BTS secara fisik.

Secara fungsional, dengan hadirnya sinyal di desa-desa terpencil seperti Batu Loreng, potensi alam berupa kelapa yang ada di desa tersebut, bahkan desa-desa tetangga seperti desa Molanihu, Molpatodu, dan Batu Layar tentu akan sangat mudah dipasarkan kepada pemasok dari berbagai daerah yang ada di nusantara, begitupun halnya dengan jagung. Potensi jagung yang juga melimpah di desa Batu Loreng dan sekitarnya secara efisien dapat memiliki value lebih dari ‘produk konsumsi pribadi’ yang dapat di pasarkan ke berbagai daerah di Indonesia, bahkan di ekspor ke luar negeri. Terlebih dengan program yang penulis dan tim akan lakukan, yakni mengubah sosok jagung lebih dari sekedar jagung, menambah nilai ekonominya menjadi bentuk lain—doli-doli (dodol jagung “khas Gorontalo”), tentu kehadiran sarana telekomunikasi yang memadai akan menunjang terciptanya keberhasilan program tersebut. Setidaknya akan memberi dampak pembangunan ekonomi yang berkesinambungan (sustainable) di Kecamatan Bongomeme pada khususnya dan Gorontalo pada umumnya.

Selain itu, kehadiran BTS tentu semakin memantapkan kondisi sinyal perusahaan telekomunikasi bersangkutan dan hal ini berarti akan semakin menggairahkan penduduk membuka usaha-usaha counter pulsa yang jika dilihat lebih luas akan memberi peluang lapangan pekerjaan.

Manfaat lainnya, dengan hadirnya sinyal yang baik dapat pula memberi angin segar bagi sektor lainnya, yakni sektor pariwisata. Potensi alam yang begitu indah, layaknya negeri awan, dimana kita bisa menyaksikan keindahan bukit batu berwarna loreng-loreng, sungai berair jernih yang mengelilingi desa Batu Loreng yang dapat dimanfaatkan sebagai wisata air atau bahkan arung jeram-pada musim hujan, dan kondisi alam yang begitu mendukung untuk kegiatan outbond dapat dijadikan sebagai modal bagi pengembangan industri pariwisata di daerah tesebut.

Sedangkan manfaat ekonomi pembangunan BTS secara fisik, dari pembangunan tower BTS dan fasilitas penunjangnya saja dapat menyerap tenaga kerja yang tidak sedikit, sehingga masyarakat, khususnya pemuda-pemuda yang menganggur, di daerah sekitar dapat didayagunakan untuk kegiatan yang positif daripada dibiarkan terjurumus pada aktivitas-aktivitas tidak produktif seperti nongkrong-nongkrong tak jelas tujuan, atau sampai pada tingkat kriminal seperti penggunaan narkoba, minum minuman keras, hingga tindakan anarkis.

Belum lagi dari pembelian atau penyewaan tanah tempat berdirinya fasilitas BTS, tentu akan mendatangkan dampak ekonomi lain yang sifatnya multiplier efect. Misalnya, si pemilik tanah menggunakan uang pembelian tanah tersebut untuk membuka usaha, yang berarti membuka lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat sekitar.

Kondisi ini menjadi bukti bahwa dari pembangunan sebuah BTS saja dampaknya tidak tersekat pada aspek ekonomi, melainkan juga merambah pada aspek sosial. Dengan semakin terbukanya lapangan kerja berarti mempersempit ruang kriminalitas, karena penyebab kriminalitas sebagian besar karena alasan ekonomi, selain itu pendayagunaan tenaga muda guna berpartisipasi dalam kegiatan pembangunan BTS akan semakin mengikis budaya malas dan tidak produktif. Disinilah pergeseran nilai yang sesungguhnya diharapkan dapat terjadi, mengubah sesuatu yang negatif menjadi positif, mengubah sesuatu yang tidak produktif menjadi produktif.

Bagi perusahaan seluler sediri, manfaat pembangunan BTS ini akan semakin memperluas pasarnya. Dengan semakin baiknya kondisi sinyal operator pembangun BTS tentu akan menarik hati warga masyarakat untuk lebih memilih layanan GSM/CDMA perusahaan seluler tersebut. Dengan jumlah penduduk yang sebegitu besar dan potensi ekonomi yang semakin berkembang, Gorontalo akan menjadi pasar yang menjanjikan bagi perusahaaan seluler bersangkutan.

Disinilah PT Excelcomindo Pratama (XL) harus mengambil peran pentingnya. Semangat untuk memberi yang terbaik bagi masyarakat negeri ini tentu akan berpengaruh positif bagi pengembangan dan penguatan brand image XL itu sendiri sebagai OPERATOR PALING PEDULI di mata masyarakat Indonesia. Jika XL sudah mampu merebut hati masyarakat negeri ini dengan brand image tersebut, jalan mulus XL menjadi perusahaan seluler nomor wahid di negeri ini bukanlah sekedar dongeng belaka.

DOKUMENTASI

                                         (Di Asrama Haji–Penginapan pertama)

(Tim KKS Desa Batu Loreng + Ibunda/Kades)

(Foto Bareng Warga Selepas Training Kewirausahaan)

(Ikut Turnamen Sepakbola 17 Agustus–Di Desa Tohupo)

(Karena Kehabisan Angkot (waktu Ifthor 1 Ramadhan 1431 H), Terpaksa Nginep di Hotel Diponegoro kelas VVIP^_^)

(Foto Bareng Keluarga Papi-Mami/Kadus–Tempat Kami Menginap)

(Foto Bareng Aparat Desa Batu Loreng)


(Malam Perpisahan)

(Pembacaan Puisi–Untuk Syurga Yang Terpendam)

(Foto bareng Sobat-Sobat Kami di Desa Batu Loreng)

(Kami Dapat Kado dari Warga Desa Batu Loreng)

(Perpisahan Di Kecamatan)

(Penginapan Terakhir–“Hotel” Andalas)

(Detik-Detik Keberangkatan-Kembali ke Jogja)

(Keharuan Mewarnai Detik-detik Perpisahan)

(Warga yang Mengantar Kami ke Bandara–Aslinya Lebih Banyak)

(Perjalanan Menuju Jogja)

                             (Kembali Ke Jogja-Bandara Adisucipto Yogyakarta)

Video Eksekusi Waktu Gue Milad (31 Juli 2010)

*Tulisan ini dipindah dari blog lama saya: sangpembebas.wordpress.com

Advertisements