Kemarin sore, secara spontan, akhirnya saya memutuskan untuk pulang, mengambil 1 Muharram 1433 H, sebagai momentumnya. Ingin saja rasanya melalui tahun baru Islam kali ini bersama  jenak hangat keluarga di rumah.

Kepulangan saya ke Jakarta, seperti sebelum-sebelumnya, saya lakukan dengan jalur darat. Dengan kereta api, kelas Ekonomi tepatnya. Maklum, harganya sangat pas dengan kondisi kantong saya. Selain itu, kelas ekonomi inilah yang pada akhirnya saya jadikan sebagai tempat muhasabbah diri. Merenungi segala hal yang sering saya lupakan. Tentang sosok-sosok yang terlupakan haknya. Tentang kerja keras tua muda mencari nafkah. Tentang diskusi hangat rakyat jelata. Dan tentang bumbu-bumbu lain yang mungkin tidak pernah ditemukan para pengguna pesawat udara atau kereta api kelas ekekutif.

Dan benar saja. Perjalanan kali ini seperti yang sudah-sudah memberikan saya sebuah pandangan baru tentang hidup.

Sore itu saya duduk di gerbong sembilan, kursi no 7E, no kesukaanku. Tepat di depanku, ada sosok lelaki dewasa yang, mohon maaf, wajahnya tampak garang, dan sedikit membuat saya tegang. Awalnya canggung untuk sekedar tanya ini itu padanya, wajahnya menampakkan mimik tak bersahabat.

Ketika senja mulai meninggi, perlahan tapi pasti, kereta pun mulai beranjak dari sarangnya meninggalkan Stasiun Lempuyangan, Yogyakarta. Seiring sepoi-sepoi angin yang menyebur dari lubang udara, suara garing pun keluar dari arah depan saya. “De, loe kan kuliah ya. Tentu tau, mengapa rel kereta itu harus di lapisi batu?” (Sebelum percakapan ini, saya memang sempat memberanikan diri untuk Sok Kenal Sok Dekat padanya, sehingga dia tahu siapa saya, seorang mahasiswa)

Sejujurnya saya bingung untuk menjawab, ini bukan bidang saya, dan secara teori pun saya tidak pernah membacanya. Tapi saya coba menjawab sekenanya, mengambil sedikit ingatan tentang teori gesekan yang pernah saya pelajari saat belajar Fisika, semasa SMP. Syukurlah, dia mengangguk-angguk. Harap saya, semoga dia menerima argumen saya.

Selang beberapa waktu, mulai lah kami merasa lebih cair. Lebih mudah untuk menuangkan kata demi kata ke dalam mangkuk diskusi hangat di kereta kelas ekonomi tersebut. Dia bertanya ini itu, dan saya pun menjawab ini itu. Sesekali saya coba melancarkan jurus perpaduan HR-Marketing, yang intinya: bagaimana membuat seseorang nyaman bicara dengan kita.

Menit-menit selanjutnya, sampailah kami pada diskusi yang sebenarnya. Diskusi tentang bahasan menarik mengenai buruh dan masalah-masalahnya. Dia ternyata mantan ketua sebuah serikat buruh yang ada di negeri ini, sedangkan saya juga concern dalam bidang Human Resource Management. Seperti kata pepatah, pucuk dicinta ulam tiba.

Sebagai mantan ketua buruh nasional, saya yakin tentu dia punya segudang cerita berharga. Dan dalam hal ini, saya ingin belajar banyak darinya. Saya tidak ingin memandang HRM dalam sudut pandang teori saja, lebih dari itu saya butuh tau tentang realita dunia HRM yang sebenarnya, langsung dari orang yang mengalaminya.

Akhirnya, dengan asyik dan tanpa ragu dia mulai bercerita A-Z tentang dunia buruh, pekerja, karyawan, personalia, SDM, Human Capital, dsb. Sadar atau pun tidak, bagi saya dia telah membuka banyak rahasia besar yang jarang diketahui banyak orang. Ia bercerita bahwa ia seringkali dimanfaatkan untuk menjadi makelar demo. Mengerahkan massa yang dimilikinya untuk menggaungkan isu-isu perburuhan.

Ketika saya tanya, “Siapa yang menggerakkan?”, dia hanya menjawab diplomatis, “siapapun punya kepentingan atas isu perburuhan, entah tujuannya untuk ‘menggangu’ ketenangan sebuah perusahaan, ataupun mengusik pemerintah. Atau memang benar-benar ingin memperjuangkan nasib kaum buruh.”

(Mengenai topik pembicaraan tersebut, saya akan bahas pada tulisan lain, agar lebih fokus)

Ah, ternyata seru juga pembicaraan kami. Sampai-sampai beberapa mata yang ada disekeliling kami tak berhenti menatap ke arah kami.

Setelah lama cuap-cuap topik perburuhan, akhirnya bahasan mulai beralih. Saya sadar, makin malam tentu kondisi tubuh semakin lelah, tidak tepat rasanya jika melanjutkan bahasan berat itu. Saya akhirnya berinisiatif mengalihkan bahasannya menjadi yang lebih santai, topik keluarga.

Awal-awalnya, memang ada sedikit kecanggungan. Namun, perlahan tapi pasti, seperti air mengalir, beliau pun cerita panjang lebar tentang kehidupan pribadinya.

“Gue udah berpisah dari bookin saya,” (Nb: Bokin= pasangan, pacar, istri, yang dikasihi), saya tidak sampai hati untuk lebih lanjut bertanya tentang penyebabnya, itu bukan hak saya mengetahui lebih lanjut.

Setahap demi setahap, ia dengan berselera bercerita tentang istrinya. Bukan tentang keburukannya, lebih dari itu, justru si laki-laki ini lebih banyak menyanjungnya. Lebih banyak menyesal karena pada akhirnya tidak mampu mempertahankan pernikahannya. Dan yang lebih membuat saya mengharu biru, ia pada akhirnya memutuskan untuk tidak berumah tangga lagi setelah ini,  padahal usianya baru 30an tahun.

Cintanya hanya mentok pada wanita yang pernah dicintainya itu. Wanita yang dalam pandangan matanya begitu sempurna, dan dari ceritanya tersebut pula saya akhirnya harus juga mengambil kesimpulan tentang betapa luar biasanya sosok wanita yang pernah mendampinginya itu. Wanita yang tidak pernah menuntut ini itu, wanita yang selalu menerima berapapun uang yang diberikan suaminya, wanita yang selalu mendasarkan segala sesuatunya atas harapan untuk meraih Ridho ALLAH. Wanita yang tidak pernah lelah mengingatkan suaminya untuk beribadah. Wanita yang selalu membawa keluarganya pada kebaikan. Ah, seperti bidadari  saja.

Detik demi detik dia terus bercerita. Bercerita tentang segala hal yang menyesaki dadanya. Tentang kebenciannya pada sosok bos yang ada dikantornya. Tentang penyesalannya atas wafatnya sang anak ke-2 yang sedang lucu-lucunya.

Oh iya, ketika dia cerita tentang anak keduanya ini, yang kalau tidak salah baru berumur 1.5 tahun, saya jadi teringat dengan keponakan-keponakan saya di rumah. Dia menceritakan tentang betapa menggemaskannya sang anak. Tentang betapa anaknya itu mampu menjadi obat atas segala kejenuhannya selama ini.

Lagi-lagi yang membuat saya mengharu biru ketika pada akhirnya ia bercerita tentang betapa tidak mampunya ia ‘menyelamatkan’ (dibaca: mencari pinjaman uang pengobatan)  si bocah lucu itu pun harus menghadap ALLAH karena sakit yang di deritanya. Saya hanya bisa mengelus-elus dada mendengar ceritanya. Prihatin sekaligus sedih. Ya, begitulah.

Dan malam itu, semua menjadi terasa berbeda bagi saya. Ada sebuah pengalaman baru yang saya dapat tanpa susah payah saya harus mengalaminya. Ilmu dari seorang mantan ketua serikat buruh yang idealis dengan perjuangannya, sosok yang kerap kali harus mengalami masa-masa sulit ketika dihadapkan pada pilihan menjadi “kesatria atau orang biasa”, sosok dengan berat harus berpisah dengan istri yang begitu dicintainya, sosok yang ditinggalkan anak yang sangat dicintainya. Ah, maafkan saya sobat, karena saya hanya bisa mendengarkan ceritamu, hanya bisa prihatin dan sekedar sedih mendengarkan ceritamu, karena sejujurnya hanya itu yang saat ini mampu kulakukan. Saya hanya mampu berdoa agar ALLAH memberikan kehidupan yang lebih baik baginy, daripada saat ini.

Waktu menunjukkan pukul 02.20, Kereta mulai memasuki Jakarta. Sebelum kereta menapakkan kaki di Stasiun Jatinegara, sosok ‘lelaki garang berhati lembut itu’ sempat berujar sambil menjabat tanganku.

“Terimakasih ya atas diskusi malam ini. Gue sangat senang bisa cerita banyak dengan Loe!!”

Aku hanya bisa tersenyum sambil memanjatkan doa dalam hati untuknya, “Ya ALLAH limpahkanlah hidayahMU kepadanya, dan penuhilah hidupnya dengan kemanfaatan pada orang lain. Aamiin.”

Advertisements