Saya yakin banyak diantara sobat sekalian yang memiliki binatang peliharaan. Entah itu kucing, sapi, kambing, ayam, burung, capung, kupu-kupu, belalang, nyamuk, kutu, kodok, dan lain-lainnya (lebih lanjutnya, silakan baca kamus Ragunan).  Nah, biasanya alasan memelihara binatang peliharaan pun bervariasi. Ada yang memang sekedar hobi, suka, atau ada juga yang rodo klenik (buat jimat).

Saya sendiri, sangat suka dengan beberapa hewan, semisal kucing, kelinci, dan panda. Tapi diantara hewan-hewan itu, hanya kucing yang menurut saya lebih low cost alias efesien (maklum, anak ekonomi ^_^). Ga perlu ngeluarin duit untuk beli (kecuali kucing Persia, Angora, dll), malahan lebih seringnya mereka kok yang datang sendiri ke rumah-rumah kita. Iya ga? ^_^

Ya, begitu juga yang saya alami. Tanpa diundang kucing-kucing itu datang ke rumah. Awalnya sih karena ibu saya sering ngasi mereka makan. Hmmm… lama-lama mereka pada ngecamp deh dirumah. Bulan demi bulan, mereka semakin kerasan tinggal dirumah. Orang rumah pun semakin terbiasa dengan kehadiran mereka. Sampai pada akhirnya mereka beranak pinak.

Sekedar flash back ke masa lampau. Sejarah perkucingan dikeluarga kami sebenarnya diawali oleh paman saya. Paman saya, yang sewaktu itu masih lajang memberanikan diri untuk mengadopsi kucing dirumahnya (rumah kakek-nenek saya). Kucing tersebut diberi nama Moli. Karena kesantunan dan kecantikan Moli ini, pada akhirnya nenek dan kakek pun ikut-ikutan suka padanya. Alhasil, berkat dukungan paman, kakek, dan nenek, Moli pun mendapat angin segar di dalam keluarga kami.

Ia seakan punya hak veto cari makan di rumah-rumah kami (rumah anak-anaknya kakek-nenek). Selain itu, Moli juga sering kali memanfaatkan momentum kumpul keluarga kami untuk bertegur sapa dengan paman-paman, bibi-bibi, sepupu-sepupu, dll. Berkat kerja kerasnya itu, tidak salah kalau kemudian sosoknya menjadi begitu populer diantara keluarga kami.

Kala itu, ketika saya masih berusia 6 tahun, popularitas Moli sedang pada puncaknya. Karirnya dalam dunia perkucingan sedang bagus-bagusnya. Dan itu terjadi, selain karena kecantikannya dalam bermain peran, juga karena kehebatannya dalam mengalahkan seekor ular. Ia berhasil membuat si ular keok, mati gaya.

Moli benar-benar menjadi legenda sejarah dikeluarga besar kami. Ini terbukti hingga bertahun-tahun, bahkan sampai kematiannya yang begitu tragis, namanya masih dikenang oleh paman2-bibi2 saya untuk diceritakan kembali pada anak-anak mereka.

Dari kepopuleran Moli ini kemudian keluarga kami jadi lebih friendly dengan yang namanya kucing. Bertahun-tahun dari usia saya 6 tahun hingga sekarang, kucing menjadi hewan yang paling familiar dimata keluarga saya.

Saat ini pun, dirumah saya, ada 2 ekor kucing yang cukup populer. Saya memberinya nama Chibi dan Pimpim. Cukup sulit awalnya saya memenangkan dominasi untuk penamaan ini. Saya bersaing ketat dengan kakak dan 3 orang keponakan saya. Masing-masing punya kandidat nama yang menurut mereka bagus. Tapi berkat kegigihan saya, alhasil nama Chibi dan Pimpim lah yang menang sayembara.

Chibi tadinya hanya seekor kucing liar, yang selalu nomaden dalam mencari makan. Hidupnya saat itu masih terbilang primitif, dimana ia bisa buang air seenaknya saja, tanpa tau tempat dan suasana. Namun, semua berubah ketika akhirnya kami mengadopsinya menjadi bagian dari keluarga. Perlahan-lahan pola hidupnya menjadi lebih modern. Hebatnya, setiap kali mau buang air, biasanya dia akan pergi ke toilet.

Suatu ketika, pernah Chibi bikin saya terheran-heran. Dari mimik wajanya, saya bisa menebak bahwa ia sedang lapar. Ketika itu saya sedang asik browsing di kamar, dan tiba-tiba terdengar suara “tok…tok…tok..” saya kira ibu, atau kakak, atau ayah yang mengetuk-ngetuk. Tapi sewaktu saya buka pintu, ternyata Chibi sedang berdiri pasang wajah memelas, “meong…” begitu ucapnya.

Saya paham benar dengan bahasa sandi itu, itu artinya dia pengen jajan. Alhasil saya ambilkan lauk pauk di dapur. Setelah kenyang, barulah mimik wajahnya jadi lebih ceria.

Sedangkan Pimpim, sebenarnya tidak lain adalah anak angkat dari Chibi. Ya, anak angkat. Begini ceritanya, sewaktu Pimpim masih bayi, mengeong-ngeong, kesana-kemari tanpa ada ibu yang menemani disisinya, Chibi dengan naluri keibuannya, membawanya ke rumah kami. Dengan penuh kasih sayang, Chibi menyusuinya. Kami sekeluarga sangat senang Chibi akhirnya menjadi sosok yang sangat bijak. (Ternyata kerja keras saya mendidiknya tidak sia-sia ^_^).

Sekarang Pimpim menjadi primadona dikeluarga kami. Bulu putihnya, dan wajahnya yang lebih cantik dari sang ibu, membuat dirinya mencuri perhatian orang-orang dirumah, terlebih kakak perempuanku. Dengan segala kecentilannya, ia berhasil menghipnotis kami sekeluarga.

Advertisements