Bagi kebanyakan orang dia memang anak yang aneh, menyebalkan, keterbelakangan mental, dan segala sesuatu yang konotasinya negatif. Saya sepenuhnya memaklumi sikap mereka yang seperti itu. Ya, itu karena mereka tidak tahu atau mungkin tidak mau tahu.

Disatu sisi saya, sebagai paman, merasakan sedih yang luar biasa. Bagaimana tidak, ketika ia masih bayi, bahkan hingga berusia tiga tahun, semua masih berjalan normal. Semua masih berlangsung sedemikian biasa. Bahkan banyak tetangga yang suka padanya. Namun, seiring pertumbuhannya, ternyata ALLAH menakdirkan sesuatu yang lain pada anak ini. Ia, dalam bahasa banyak orang, mengalami keterbelakangan mental.

Namanya Subhan, lengkapnya Muhammad Subhan, ia lahir 28 Desember 1998. Kulitnya putih. Badannya cukup gembur dibanding saya. Ia sempat bersekolah hingga kelas 4 SD, selebihnya, ia menyerah. Bukan karena ia bodoh ataupun tidak bisa mengikuti pelajaran. Justru karena ia terlalu cerdas, sebenarnya. Sayangnya sang guru tidak mampu menangkap sinyal kecerdasannya itu secara bijak.

Bukan Subhan namanya jika bisa diam. Ia memang sangat aktif dalam banyak hal. Mulai dari gerak, hingga berbicara. Ia tipe anak yang super kritis dalam mengenali lingkungannya. Setiap ada hal yang mengusik pikirannya, dia tidak akan segan-segan bertanya pada siapapun, tanpa peduli siapa orangnya, apa jabatannya, dimana rumahnya, ataupun berapa kekayaannya. Baginya “tahu” menjadi sesuatu yang berharga.

Kecerdasannya inilah yang pada akhirnya disalah artikan banyak orang sebagai keterbelakangan mental. Subhan memang tidak segan-segan mengamati sebuah mobil, tidak hanya dari body luarnya saja, melainkan hingga ke mesin bawahnya. Tidak jarang ia memberanikan diri melongok bagian bawah mobil (yang sedang parker, tentunya) untuk sekedar ingin tahu mengapa mobil bisa berjalan? Apa sebenarnya yang membuat mobil bisa berjalan? Apa namanya? Bagaimana bentuknya?

Dan kecerdasan ini pula yang membuat gurunya sampai mengeluarkan hinaan kepadanya, menganggapnya orang tidak normal, dan seketika semenjak itu ia lebih memilih untuk belajar sendiri. Ia sangat sakit hati dengan ucapan sang guru. Saya juga tidak habis pikir, mengapa anak sekecil dia (saat ini awal kelas 4 SD, usianya sekitar 9 tahun) sampai menyimpan sakit hati sedemikian kuat? Padahal yang saya tahu, anak-anak sangat mudah melupakan hal-hal negatif, misalnya saat mereka bertengkar, tidak lebih dari 10 menit kemungkinan sudah baikan lagi.

Saya sangat menyayangkan sikap guru yang semacam ini, sebenarnya. Bukankah guru mengemban tugas mulia untuk mencerdaskan anak-anak bangsa? Menjadi risiko baginya untuk wajib menahan amarah, dan tidak berkata-kata kasar kepada seorang anak. Semoga peristiwa ini hanya dialami Subhan saja, semoga tidak ada Subhan-Subhan lain.

Subhan memang sangat istimewa dalam image ketidakistimewaannya dihadapan orang lain. Ia hampir hafal jalan-jalan di Jakarta. Dalam sepekan, dia terhitung bisa menjelajahi beberapa lokasi nun jauh di sekitaran Jakarta. Dia pernah ke Kampung Melayu, Monas, Tanah Abang, Kota Tua, dan lainnya, sendiri dengan mengayuh sepeda bututnya. Awalnya kedua orang tua sangat khawatir dengan kebiasaannya ini, namun lambat laun mereka mulai memahami.

Keistimewaan lainnya, Subhan menjadi anak yang paling pintar memasak dirumahnya. Ia paling sering mengolah masakan sesuai seleranya. Ia paling berani berinovasi dengan berbagai bumbu dan bahan masakan. Dalam hal ini kerap saya memanggilnya Chef Subhan. Sempat suatu ketika saya menyicipi masakannya, dan ternyata jauh lebih enak dari masakan yang biasa saya beli di sekitaran kos saya di Yogyakarta.

Selain itu, ia juga sangat pandai menggambar. Terutama segala hal yang berbau otomotif. Gambarannya pun jauh lebih bagus daripada anak-anak yang katanya jauh lebih normal daripadanya. Dan satu hal lagi yang membuat saya merasa anak ini benar-benar istimewa adalah memori otaknya dalam menghafal. Dua hari lalu, saya dibuat terhenyak olehnya. Ketika itu saya sedang asik buka-buka facebook dan ngeblog, dia tiba-tiba datang dan bertanya tentang suatu peristiwa yang sejujurnya tidak pernah saya ketahui sebelumnya.

“Cing Zuki, tragedi Bintaro itu kenapa bisa terjadi sih? Memangnya keretanya kenapa?” Mendengar pertanyaan tersebut, sesaat membuat saya melongo. Mencerna maksudnya. Kemudian saya coba menelisik.

“Tragedi Bintaro apa?”

“Itu….itu… tabrakan kereta api yang terjadi tahun 1987. Itu kenapa terjadi?” jelasnya dengan aksen terbata-bata.

Dengan enteng saat itu saya menjawab, “Maaf ya, encing gak tahu.” Dengan enteng pula ia membalas, “kan ada internet, kenapa gak cari disana?”

Tingg…. Saya langsung mati gaya mendengar jawabannya itu. Tidak kepikiran sejauh itu. Maka saya pun coba bertanya kepada Mbah Google dengan Keyword: Tragedi Bintaro, seketika, hasilnya luar biasanya banyak yang memuat berita peristiwa tersebut. Saya coba telusuri beberapa artikel. Hasilnya membuat saya cukup tercengang. Ternyata tragedi tersebut sangat popular pada masanya, sampai-sampai di film-kan, bahkan pada saat itu dunia internasional pun cukup terhenyak dengan tragedi tersebut.

Saya kalah! Dan untuk kesekian kalinya saya menganggap anak ini sangat istimewa. Dia adalah bintang dalam keluarga kami. Sekalipun tingkahnya bagi banyak orang terkesan aneh, tapi saya justru menganggapnya sangat brilliant.

Teruntuk Subhan: Semoga suatu saat kau akan jadi orang yang mampu menggantikan legendarisasi Einstein ataupun Thomas Alfa Edison sekalipun. Terus belajar ya… ^_^

Advertisements