Seperti sebelum-sebelumnya, ketika saya pulang ke rumah, kedua bocah inilah yang sepertinya paling berbahagia. Entah kenapa, namun saya perhatikan kondisi macam ini selalu berulang.

Kali ini, saya memutuskan pulang lagi, ke rumah saya di Jakarta. Dan ternyata dua bocah ini lagi-lagi gegap gempita menyambutnya. Padahal saya cuma bilang ke Kak Mai, kakak perempuan saya, saja bahwa saya ingin pulang. Saya tidang menyangka ternyata kedua bocah ini pun terima kabarnya.

Sudah tiga hari ini, kedua bocah kecil, yang tidak lain adalah keponakan-keponakan saya, menjadi teman yang begitu berharga bagi saya. Mereka lah dua mahluk yang selalu merecoki saya dalam melakukan apapun. Dan semua baru berakhir ketika ibu kedua anak itu sudah memberi warning untuk tidur malam.

Kedua bocah itu adalah Firda dan Zaki. Firda adalah anak dari kakak laki-laki saya. Nama lengkapnya Fariha Firda Hasyim. Rumahnya bersebelahan dengan rumah kami (ibu-bapak). Sedangkan Zaki, nama lengkapnya Ahmad Zaki. Dia adalah anak dari kakak perempuan saya. Rumahnya pun bersebelahan. (Dalam tradisi Betawi, biasanya rumah antar orang tua dan anak saling bersebelahan, atau paling tidak masih sekampung)

Cukup lama meninggalkan rumah, berusaha menyelesaikan tugas akhir kuliah yang tak kunjung rampung di kota gudeg, membuat saya banyak ketinggalan berita. Syukurlah, kedua jagoan inilah yang kemudian menjadi informan paling handal. Dengan mimik menggemaskannya, mereka dengan ceplas-ceplos ala bocahnya bercerita banyak hal yang terjadi. Mulai dari tetangga kami yang baru menikah beberapa bulan lalu, atau kondisi aktual tentang pembangunan jalan tol yang akan menyambangi daerah kami, sampai pada gosip seputar selebritis sekelas Ayu Ting Ting (alamak… anak sekarang).

Dari kedua jagoan itu, saya akui, Firda memang lebih bijak dan asyik untuk diajak ngobrol. Saya seringkali curhat padanya. Tentang orang yang saya sukai lah atau sekedar aktivitas kampus yang kadang menjenuhkan. Namun, parahnya, dengan segala kepolosannya, dialah yang kemudian menjadi informan bagi kedua orang tuaku dan juga keluargaku yang lain. Ceritaku ternyata disebarnya dengan bayaran segelas Pop Ice. (Bakat jadi agen intelejen nih anak). Firda termasuk anak yang memiliki kelebihan dalam urusan linguistik dan hitung menghitung. Dia menjadi teman saya saat tebak-tebakan nama benda, hewan, buah, warna, atau organ tubuh dalam bahasa Inggris, padahal saat ini dia masih TK Nol Besar.

Sedangkan Zaki sebenarnya tipe anak yang cukup menyebalkan. Ya, menyebalkan dalam ukuran bandelnya anak-anak. Sejauh ini sih saya masih menganggap wajar-wajar saja, walaupun kalau sudah kelewat batas ya keluar juga deh omelan saya. Zaki ini tipe anak yang cerdas dalam bidang visual. Ia dengan segala imajinasinya, tanpa harus melihat objek, mampu menggambar benda-benda tertentu. Misalnya, menggambar Buldozer, padahal dia sendiri belum pernah melihat. Cukup mencari sumber dari cerita-cerita kakaknya saja. Buldozer itu seperti ini, ini, ini, dan ini. Alhasil, gambarnya saya pikir jauh lebih bagus dari gambaran anak kelas 4 SD, padahal saat ini ia belum sekolah. Dengan kecerdasannya itu, alhasil, tiga hari ini saya mendadak jadi guru penilai segala karya-karya gambarnya.

Oh iya, ada satu hal lagi yang cukup menarik dari Zaki. Dia ini sangat suka dengan sosok Baim (artis cilik). Ya, secara fisik memang sedikit mirip sih, cuma Zaki tidak segempal Baim. Gayanya selalu mengikuti idola ciliknya itu. Mulai dari gaya rambut hingga gaya pakaian. Banyak tetangga, atau bahkan, orang yang sekelebat melihatnya akan memanggilnya Baim. (Sekarang malah ganti lagi, dia sedang suka-sukanya dengan Upin-Ipin, tapi belum sampai meniru gaya rambut Upin-Ipin sih ^_^)

Di rumah, kedua bocah ini memang satu-satunya tempat melepas jenuh. Setiap kali mendengar celotehnya, yang lebih mirip orang tua, membuat segala jenuh saya seketika lenyap. Keduanya memang istimewa. Sempat suatu kali saya mengajarkan mereka untuk selalu membaca doa sebelum makan. Dan beberapa waktu kemudian ketika saya makan, lupa baca doa, kedua jagoan inilah yang  sangat keras mengingatkan: “Cing Zuki… Ingat ya… Kalo mau makan harus baca doa! Emang mau jadi temannya setan??!!”

Saya selalu menikmati masa-masa itu, karena saya sadar bahwa suatu saat mereka akan tumbuh, lebih besar, lebih besar, hingga mencapai kedewasaannya, yang mana boleh jadi pada saat itu kondisinya akan jauh berbeda.

Semoga kalian berdua menjadi anak-anak yang soleh dan sholeha, yang mampu membawa agama dan negeri ini mencapai puncak kejayaannya. Aamiin.

Advertisements