Kalau saya tidak salah ingat, dua tahun lalu, ada salah seorang teman yang berujar begini, “Ki, kamu kok suka banget jalan kaki sih?! Saya nyampe capek lihat kamu kemana-mana selalu jalan kaki.” Beberapa waktu lalu, pun kisahnya hampir sama, sama-sama mengeluhkan kebiasaan jalan kaki saya, “Emang gak punya motor apa, Mas? Kok selalu jalan kaki kemana-mana.”

Dua ucapan teman-teman saya tersebut hanyalah sebagian kecil dari sekian banyak keluhan orang-orang di sekeliling saya, mengenai kebiasaan jalan kaki ini. Saya jadi sering tertawa sendiri jika mengingat ucapan-ucapan tersebut. Bukannya apa-apa, saya bingung aja, “Wong yang jalan ya gue, yang capek ya gue, yang keringetan ya gue, yang panas-panasan ya gue, tapi kok jadi mereka yang pada ribut. Kayak emak-emak kehabisan duit belanja aje loe pada!” Hihihi…

Cerita sedikit nih tentang kebiasaan jalan kaki ini. Sebenarnya saya sudah memulai kebiasaan ini sejak SD dulu. Tanpa kebetulan, SD saya dulu jaraknya tidak begitu jauh dengan rumah jadi lebih asik jalan kaki atau mentok-mentok sepedaan. Kebiasaan ini berlanjut ketika saya memasuki SMP. Sedangkan SMA, saya terpaksa harus naik angkot karena jarak rumah ke SMU saya sangat jauh (tapi tetap ada jalan kakinya juga).

Nah, ngomong-ngomong lebih lanjut tentang jalan kaki, saya jadi teringat tayangan Metro TV beberapa waktu lalu yang menayangkan bincang-bincang dengan dua orang inisiator gerakan jalan kaki di Jakarta. Dari tayangan tersebut secara garis besar ada beberapa fakta yang berkaitan dengan jalan kaki ini.

Pertama, di negara-negara maju seperti Jepang, Korea, Inggris, Perancis, dan beberapa negara Eropa lainnya, jalan kaki sudah menjadi life style dan kebutuhan bagi setiap masyarakatnya. Setiap hari mereka mengusahakan untuk jalan kaki, entah berangkat ke kantor atau kemanapun, berbeda dengan di tanah air kita, masyarakatnya justru berbondong-bondong pakai kendaraan, entah itu motor ataupun mobil. Alhasil, wajar saja kalau yang namanya kemacetan (terutama di Jakarta) susah banget dibasmi, bahkan belakangan mulai mewabah ke kota-kota lain, seperti Jogja. Ya, kalau saya sih bilangnya yang kayak gini nih artinya mentalitas masyarakat negeri ini masih kebanci-bancian alias setengah-setengah. Gimana enggak, wong untuk urusan gaya pakaian, musik, bla..bla..bla.., mereka mati-matian serba niru ala barat, tapi untuk urusan jalan kakinya eh malah dianggap sebelah mata, padahal ini yang jauh lebih positif daripada niru-niru gaya pakaian, musik, bla…bla..bla… yang jauh dari entitas nasionalisme.

Kedua, di negeri kita tercinta ini, setiap pejalan kaki masih dianggap golongan kelas tiga alias golongan marjinal alias kere. Padahal, gak sepenuhnya benar tuh! Buktinya banyak kok orang-orang berkantong tebal yang kalau kemana-mana lebih memilih jalan kaki ketimbang naik mobil yang diparkir di garasi rumah. Biasanya tuh mobil Cuma dipakai kalau mau ketemu klien atau mau negosiasi bisnis aja. Jadi pandangan yang menganggap pejalan kaki ini sebagai golongan kelas tiga sebenarnya cuma legitimasi keculasan kebanyakan orang aja.

Ketiga, jalan kaki ternyata menyehatkan lho! Jalan kaki ini, menurut penelitian ahli kesehatan dianjurkan untuk menjaga kesehatan karena bisa membakar kalori, de el el (saking banyak manfaatnya). Bukankah di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat? Atau lebih penting lagi, bukannya ALLAH lebih mencintai mukmin yang kuat daripada mukmin yang lemah? (InsyaALLAH kalau sering jalan, semakin sehat dn semakin kuat)

Jalan kaki ini jika dilihat dari sisi manfaatnya, menurut saya sih banyak banget. Pertama, tentu saja menyehatkan badan. Alhamdulillah, saya termasuk orang yang jarang sakit (kecuali pusing-pusing kalau kehabisan duit J) dan sangat mungkin ini karena saya membiasakan untuk selalu jalan kaki.

Kedua, dengan berjalan kaki ada banyak peluang pahala yang bisa kita raih. Misalnya begini,

  1. Ketika berjalan kaki lalu kita menemukan paku atau batu yang ada di jalan kemudian kita menyingkirkannya, bukankah itu bisa mendatangkan pahala bagi kita?
  2. Ketika berjalan lalu kita bertemu saudara lain yang kesulitan, semisal mobilnya mogok atau tukang Somay yang gak kuat mendorong gerobaknya ditanjakan, kemudian kita bantu mendorong, bukankah itu juga bisa mendatangkan pahala bagi kita?
  3. Semisal kita bertemu teman, sahabat, atau saudara seakidah yang juga berjalan kaki lalu kita lemparkan senyum, atau bagus-bagus diikuti salam (Assalamu’alaykum wr. wb.), bukankah itu juga bisa menjadi ladang pahala bagi kita, bahkan mampu mempererat tali ukhuwah diantara sesama muslim?

Sejujurnya saya tidak begitu yakin hal ini dapat Anda lakukan saat mengendarai motor atau mobil, kalau sepeda masih ada kemungkinan bisa juga.

Ketiga, dengan berjalan kaki artinya kita telah berkontribusi untuk menyelamatkan bumi ini dari polusi dan itu artinya semakin mengurangi dampak global warming (semoga juga bisa menjadi ladang pahala lagi).

Keempat, dengan berjalan kaki, kita juga berkontribusi untuk mengurangi kemacetan dan itu artinya mengurangi tingkat stress para pengguna jalan (semoga bisa menjadi ladang pahala lagi).

Kelima, jalan kaki bisa menjadi waktu paling tepat untuk melakukan kontemplasi. Saat berjalan kaki banyak waktu luang, sehingga Anda dapat mengisinya dengan melakukan kontemplasi. Merenungkan segala kesalahan atau keburukan yang pernah Anda lakukan. Dengan begitu Anda dapat memperbaharui hidup Anda dengan hidup yang lebih berkualitas. Bukankah itu baik bagi Anda?

Keenam, jalan kaki mengajarkan Anda tentang makna syukur dan sabar. Ketika Anda berjalan, tentu Anda akan menemukan berbagai macam peristiwa entah itu sepele ataupun kompleks. Disanalah kemudian Anda bisa belajar tentang makna syukur. Misalnya begini, ketika Anda berjalan kaki kemudian menemukan seorang pengemis, jika Anda berpikir harusnya Anda akan bersyukur (bahwa Anda lebih beruntung daripada beliau), atau ketika Anda berjalan kaki Anda bertemu dengan orang cacat lagi-lagi jika Anda berpikir harusnya Anda akan bersyukur karena Anda masih diberikan kesehatan yang prima.

Sedangkan nilai kesabarannya. Jalan kaki bukanlah perkara mudah, sahabat. Ia benar-benar membutuhkan kesabaran yang luar biasa. Pertama tentu Anda akan jauh lebih capek ketimbang mereka yang naik motor atau mobil. Kedua, tentu Anda akan jauh lebih kepanasan ketimbang mereka yang naik kendaraan. Jadi memang butuh kesabaran. Tetapi justru disinilah positifnya, Anda akan lebih merasa tenang dalam menghadapi berbagai kemungkinan. Semisal Anda berangkat kerja jam sekian, biasanya Anda sudah dapat memperkirakan Anda sampai ditujuan jam berapa karena Anda sudah terbiasa melakukannya. Beda halnya dengan mereka yang menggunakan kendaraan, kejadian-kejadian tak terduga seperti macet, ban pecah, dan kecelakaan tentu bisa membuat mereka berada dalam ketidakpastian.

Intinya, jalan kaki sangatlah bermanfaat bagi Anda, tidak peduli apapun jenis kelamin Anda, berapapun usia Anda (kecuali Balita ya—ngeri kesamber mobil/motor), apapun suku Anda, apapun agama Anda, apapun merk sepatu Anda, berapapun uang yang ada di dompet Anda. Pokoknya kagak ngaruh…

Pesan terakhir dari saya,

  1. Untuk para pejalan kaki, jika mau menyebrang jalan gak usah ragu-ragu (tentu harus tengok kanan-kiri dulu), karena Undang-Undang Lalu Lintas mengatur agar para pengguna jalan mendahulukan pejalan kaki untuk menyebrang. Kalau ada yang marah-marah ketika ente nyebrang, ya sampaikan aja peraturan perundang-undangannya dengan cara yang santun ya. Kalau dia masih marah-marah, ente bae-bae deh nasehatin, kalau masih marah juga ceburin aja ke laut (hehehe… kali ini becanda!)
  2. Buat para pengendara motor atau mobil, tolong hormati hak pejalan kaki. Ente kan penghasil  racun tuh (asap knalpot) jadi jangan sekali-sekali ambil jatah pejalan kaki dengan jalan ditrotoar dan beri kesempatan pejalan kaki untuk menyebrang kalau memang ada yang mau menyebrang.
  3. Buat yang punya mobil banyak, tolong gak usah alay ya… Gak penting juga kan pamer-pamer mobil ente yang segudang itu (setau saya yang sering pamer itu ya si Alay-Alay). Dengan gitu jalanan jadi gak terlalu macet sama mobil ente yang segudang itu. Kalau memang bisa pakai satu mobil untuk tiga orang ya pakai satu aja lah gak usah tiga-tiganya dipakai. Utamakan kepentingan bersama diatas kepentingan pribadi. Oke?! Semoga bermanfaat.
Advertisements