Selepas Shubuh kemarin, ditengah sayup-sayup suara bocah-bocah penghafal Qur’an yang sedang menuntaskan hafalannya, seorang pengurus masjid di dekat kos saya (Masjid Nurul Asri) menyampaikan berita duka melalui pengeras suara. Sang pengurus masjid menyebutkan satu per satu informasi, mulai dari nama, alamat, usia, pukul berapa sang almarhum meninggal dan akan dimakamkan, dan seterusnya.

Dalam sepekan setidaknya lebih dari tiga kali biasanya pengurus masjid menginformasikan berita duka, namun, kali ini ada sesuatu yang berbeda buat saya. Usia sang almarhumah kali ini baru 29 tahun (biasanya enam puluhan tahun). Ya… beda lima tahunan lah dari usia saya. Siapa sangka bahwa beliau yang notabene masih berusia muda ternyata dipanggil lebih dahulu oleh ALLAH ketimbang seorang kakek yang berusia 90an tahun.

Disinilah ajaibnya sesuatu bernama kematian itu. Ia tidak pandang usia, tahta, harta, pria atau wanita, atau kita berada dimana dan dalam keadaan apa. Ia akan datang sesuai perintah yang menciptakannya. Dan satu hal lagi, ia adalah sesuatu yang tidak bisa kita mintai tolerasinya, dimajukan ataupun dimundurkan. Ketika tiba waktunya, maka tibalah! Dan disaat itu seorang presiden, dictator, konglomerat, atau siapapun itu tidak akan mampu menggunakan kekuasaannya untuk mencegah datangnya kematian. Kematian menjadi titik akhir karir seseorang di dunia. Entah seberapa baik atau buruknya orang tersebut, ketika kematian sudah menjemput, maka matilah ia.

Di tengah masyarakat, kematian digambarkan sebagai sesuatu yang sedemikian menyeramkan, sehingga siapapun menjadi sedemikian takut untuk menghadapinya. Alhasil, kematian dianggap sebagai sebuah masalah. Menurut saya, sejatinya kematian bukanlah sebuah masalah, karena sejak terlahir ke dunia, kita sudah dibekali dengan takdir kematian masing-masing, dan itu sudah menjadi suatu informasi umum dan mutlak, bahwa apapun atau siapapun mahluk yang pernah hidup di dunia, pasti akan mengalami kematian. Secara sadar kita pun tahu semua itu. Kita paham semua itu. Yang menjadi permasalahan menurut saya, bukan pada kematiannya, melainkan pada seberapa besar kesiapan kita dan pada saat apa kita menghadapinya?

Masalah kesiapan ini tergantung pada individu masing-masing. Seseorang yang setiap harinya menyibukkan diri dengan aktifitas ketakwaan tentu menganggap kematian sebagai sesuatu yang menggembirakan, karena disanalah gerbang dimana ia bisa bertemu dengan Dzat yang dicintainya, ALLAH Subhanahu wa ta’ala, ditempat menakjubkan bernama Syurga. Sebaliknya, bagi siapapun yang selalu menyibukkan diri dengan aktivitas keburukan tentu menganggap kematian sebagai momok yang mengerikan, karena ia begitu takut mempertanggungjawabkan segala keburukannya di hadapan ALLAH dan takut akan dimasukan ke tempat paling mengerikan bernama neraka.

Maka pertanyaannya sekarang, sudah seberapa siapkah kita menghadapi sesuatu bernama kematian tersebut?

Sahabat, sebagai seorang mahluk yang diciptakan ALLAH sejatinya kita sudah diberikan batasan hidup di dunia dengan lama tertentu. Sayangnya, kita sendiri tidak tahu seberapa lama kita diberi waktu. Maka, disinilah kita bisa menemukan betapa ALLAH memang menciptakan kita untuk senantiasa menjadi orang baik. Mengapa begitu? Bayangkan saja, jika kita tahu kapan kita akan mati, boleh jadi kita  akan berbuat maksiat dulu sepuas kita, dan baru bertaubat selang setahun, sebulan, sepekan, atau sehari sebelum tanggal kematian itu datang. Sedangkan dengan tidak tahu kapan waktu kematian, secara naluriah harusnya kita selalu termotivasi berada dalam kondisi terbaik, kondisi dimana iman kita sedemikian kuat, amal kebaikan kita sedemikian banyak, kemanfaatan kita sedemikian luas, dan prestasi yang kita raih sedemikian gemilang. Sayangnya, kita tidak menyadari semua itu dengan kesadaran yang sempurna. Kita memahami kematian sebatas, fase antara hidup dan mati, tanpa berpikir bagaimana nasib kita setelah mati tersebut. Wajar kiranya jikalau kita merasa asing mengingat kematian itu sendiri.

Barangkali kebanyakan dari kita butuh momentum untuk mengingat kematian, entah itu ada tetangga, keluarga, atau teman yang meninggal. Entah saat kita sakit, mengalami kecelakaan, atau melihat kecelakaan. Entah saat kita berjiarah atau sekedar melewati pemakaman. Seperti halnya saya, beberapa pekan lalu, saya berkesempatan menonton pertandingan sepakbola antara Persija (Jakarta) versus Persiwa (Wamena) di Stadion Mandala Krida, Yogyakarta. Awalnya suasana masih kondusif, para supporter masih asik meneriakkan yel yel dan lagu kesebelasan mereka. Namun, saat babak kedua, keributan terjadi. Supporter Persiwa turun ke lapangan dengan membawa apa yang mereka temui, tanpa terkecuali batu. Alhasil, saya dan para penonton umum kalang kabut berlarian karena mereka menimpuki kami dengan batu.

Tahukah Anda bagaimana suasana saat itu? Mencekam! Anak-anak, ibu-ibu yang tengah menggendong bayinya, remaja-remaja putri, dan para lelaki tua berlarian berebut keluar. Mereka saling berteriak, menangis, memanggil-manggil teman atau anak atau saudara yang mereka bawa ke stadion. Saat itu, kematian seolah sudah berada diubun-ubun setiap orang, terlebih ketika salah seorang penonton yang tepat berada dibarisan saya ada yang tersungkur jatuh setelah kepalanya bocor dilempar batu. Innalillahi wainna ilaihi raaji’un. Betapa dekat kematian itu, kawan! Dan kita tidak pernah tahu kapan ia akan menjemput kita.

Lalu bagaimana cara agar kita ‘familiar’ dengan kematian? Ya, dengan sesering mungkin mengingatnya. Lalu bagaimana agar kita selalu mengingatnya? Tips dari saya, dengan mengagendakan kematian! Setiap hari tentu kita memiliki agenda harian. Yang saya maksud mengagendakan kematian adalah, tuliskan juga KEMATIAN dalam agenda harian Anda itu disamping agenda lain, entah ngerjain tugas, belanja ke pasar, jumpa fans di kuburan, ikut seminar di pucak gunung, atau apapun itu. Dengan begitu Anda akan selalu ingat, bahwa selalu terbuka kemungkinan bahwa kematian itu akan datang pada hari dimana Anda menuliskannya dalam agenda harian. Setidaknya tindakan tersebut lazimnya akan semakin membuat Anda termotivasi berbuat yang terbaik demi menambah bekal akhirat Anda, serta meninggalkan segala aktivitas buruk yang akan membawa kesengsaraan pada masa depan akhirat Anda.

Selamat Mencoba!!

Bagi yang punya akun Facebook, gak ada salahnya tuh gabung ke Fan Page INGAT MATI COMMUNITY yang saya bangun. InsyaALLAH itu bisa jadi forum pengingat kita bersama tentang KEMATIAN.

Advertisements