Belum lama ini saya sempat melihat status unik di akun facebook salah seorang teman karib saya, begini statusnya: Di Jogja, alon-alon asal waton. Di Jakarta, alon-alon langsung di klakson. Barangkali siapapun yang pernah tinggal di Jogja kemudian pindah ke Jakarta akan merasakan hal yang sama. Saya pun begitu.

Bicara tentang Jakarta, barangkali ada benarnya perkataan teman saya tersebut. Di Jakarta yang notabene pusat pemerintahan sekaligus pusat perekonomian negeri ini memang selalu menuntut setiap orang yang ada di dalamnya untuk selalu cepat. Penduduknya yang kebanyakan para pegawai diberbagai perusahaan/institusi pemerintahan memang tidak punya pilihan selain datang secepat-cepatnya (agar tidak telat ke kantor) dan pulang secepat-cepatnya (agar bisa istirahat di rumah).

Tetapi ada satu fakta unik yang saya cermati dan ini sifatnya paradoks. Jakarta dengan penduduknya yang sebanyak 13 jutaan jiwa pada siang hari dan 9 jutaan jiwa pada malam hari, yang setiap hari (seharusnya) sudah sangat mengenal yang namanya kemacetan, sayangnya selalu gagal belajar tentang makna kesabaran. Bukankah seharusnya, dengan kondisi ritualis semacam itu penduduk Jakarta menjadi ahil sabar? Bukankah seharusnya Jakarta menjadi madrasah kesabaran yang teramat efektif untuk mengajarkan makna kesabaran bagi penduduknya? Faktanya: Nothing!! Yang terjadi justru sebaliknya, sebagaimana yang saya ungkapkan diatas, sebagian besar masyarakat di kota ini terbilang cukup termpramen dan ekspresif.

Hmmm… padahal sabar menjadi hal yang teramat penting dalam berbagai aktivitas kita lho! Sabar dapat menghindarkan setiap orang dari berbagai permasalahan, semisal konflik. Sebaliknya, ketidaksabaran itu sangat dekat dengan emosi dan stress. Dengan kata lain para pecandu ketidaksabaran akan mudah emosi dan terserang stress. Fren, jika dilihat lebih runut, ternyata tanpa kita sadari emosi dan stess ini bisa berdampak costly lho. Bayangkan deh, jika saja keseringan stress, sangat mungkin tubuh kita rentan terhadap penyakit. Nah kalau sudah sakit, terlebih sakit yang parah semisal darah tinggi kemudian stroke, hal tersebut tentu sangat menguras kocek Anda untuk berobat ke dokter. Belum lagi pekerjaan Anda atau target karir yang ingin Anda capai menjadi terganjal lantaran satu masalah ini. And… ditambah lagi yang sudah jadi rahasia umum bahwa biaya hidup di Jakarta aja sudah high cost toh?

Adapula yang lebih miris, banyak diantara yang stress lalu melarikan diri ke minum-minuman keras dan obat-obatan terlarang ataupun pergaulan bebas. Dan tentu hasilnya akan jauh lebih buruk lagi. (Saat menulis paragraph ini, jadi teringat 2 teman yang tewas karena OD, dan 1 teman yang tewas karena perkelahian, dan 1 teman lagi yang tewas karena kebut-kebutan di jalan T_T).

Balik lagi ke topic, Nah itulah mengapa sabar harusnya menjadi kebutuhan yang wajib dipenuhi setiap manusia (bukan hanya masyarakat Jakarta). Selain menyehatkan, menghemat pengeluaran, dan tentunya memberi manfaat ruhiyah, baik kesucian jiwa maupun tabungan pahala untuk bekal akhirat.

Dipandang dari kacamatan Islam, ternyata sabar menempati perhatian penting. Buktinya, dalam Al Qur’an ALLAH berfirman tentang kesabaran sebanyak lebih dari 100 x. Diantaranya,

“Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al Baqarah: 153)

 “…dan orang-orang yang bersabar dalam kesulitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar imannya dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa.” (QS. Al Baqarah: 177)

“Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar.” (QS. Ali Imran: 146)

“Dan bersabarlah kamu, karena sesungguhnya Allah itu beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al Anfal: 46)

 ”(yaitu) surga `Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, isteri-isterinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu; (sambil mengucapkan): “Salamun `alaikum bima shabartum” (keselamatan bagi kalian, atas kesabaran yang kalian lakukan). Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.” (QS. 13: 23 – 24)

Balik lagi ke masalah Jakarta. Seiring langkanya sifat sabar dalam diri masyarakat Jakarta, jika Anda berkendara lambat sedikit saja akan menjadi keajaiban dunia ke-8 jika tidak di klakson kendaraan dibelakang Anda. Salah sedikit, siap-siap aja Anda kena cacian (parahnya lagi dikeluarin kamus Ragunan). Ya, survey pun membuktikan bahwa tingkat stress di Jakarta setiap tahunnya mengalami peningkatan. Sewaktu saya SMP hingga SMA setiap kali berangkat ke sekolah menjadi aneh rasanya jika tidak menemukan perkelahian antar sopir angkot, dan menjadi lebih aneh lagi jika tidak mendengar kamus Ragunan keluar dari mulut mereka.

Menanggapi kondisi Jakarta yang semacam ini, ada sedikit pesan nih dari saya: pertama, bagi Anda yang ingin mengejar materi di masa muda ya monggo deh ke Jakarta (asal gak nyampah aja di Jakarta—alias kagak jadi sampah) karena memang ada benarnya ungkapan yang menyatakan: di Jakarta, duduk di pinggir jalan aja bisa dapat duit. Tingkat perputaran uang di Jakarta terbilang tinggi, dengan tingkat konsumsi masyarakat dan living cost-nya yang sama-sama high cost, alias gampang dapat duit, tapi lebih gampang lagi menghabiskan duit. Kedua, bagi Anda yang ingin menikmati masa tua atau sisa usia, rasanya kurang asik aja menikmati sisa usia dalam kebisingan dan aura glamoritas kota metropolitan. Menurut saya, kembali ke kampung halaman menjadi pilihan yang paling tepat, dengan begitu Anda bisa romantisme sejarah masa lalu Anda dari kecil hingga besar. Cocok banget tuh buat menikmati sisa usia.

Ketiga, bagi Anda yang ingin mendidik anak menjadi anak yang sopan dan tidak berkata kasar, rasanya Jakarta bukan tempat yang tepat, karena saya mencermati anak-anak (bahkan yang berusia dibawah 5 tahun) sudah banyak terkontaminasi dengan pergaulan yang tidak baik, alhasil jangan heran kalau diantara mereka sudah mampu mengucapkan: Kamus ragunan, (Maaf) Alat kelam*n, (Maaf) Hubungan S*ksual, dan perkataan lain yang sangat tidak pantas untuk ukuran anak sekecil itu (orang dewasa aja gak pantas, apalagi anak kecil). Kecuali Anda memang sangat extra dalam mendidik anak, semisal menyekolahkannya di sekolah Islam yang bagus, extra dalam mengawasi pergaulannya baik di dunia maya atau nyata. Dengan begitu, mungkin bisa meminimalisir pengaruh kurang baik yang muncul di sekeliling mereka.

Kondisi paradoks lainnya, di Jakarta yang namanya waktu dan uang itu sangatlah Wow! Itulah sebabnya kata efektif dan efisien menjadi amat popular disini. Dan ungkapan time is money sudah seperti jargon hidup penduduknya. Lucunya, semuanya menjadi omong kosong besar ketika dihadapkan oleh permasalahan ritualis bernama MACET. Berita buruknya, masalah yang satu ini seakan menjadi ‘kutukan turunan’ dari setiap gubernur yang menjabat kota ini. Makanya saya sempat melongo karena ada calon gubernur yang berani JANJI akan mengatasi masalah macet ini hanya dalam jangka waktu 3 tahun. Saya ulangi sekali lagi: 3 TAHUN!! (Kalau sampai dia terpilih dan tidak menepati janji, seret aja ke lubang buaya—suruh merenung maksudnya. Hehehe)

Terkadang saya berpikir, rasanya kalau lama-lama tinggal di Jakarta boleh jadi kita bisa tua di jalan. Bayangkan saja, dari 24 jam waktu yang ALLAH berikan kepada kita dalam sehari-semalam, berapa banyak coba yang kita habiskan untuk bergelut dengan kemacetan di Jakarta? Waktu untuk keluarga jadi berkurang, terlebih waktu untuk ALLAH, yang boleh jadi sebagian orang sudah mulai melupakan. Nau’dzubillahimindzalik! Sekalipun begitu, ya ini dikembalikan ke pribadi masing-masing. Jika manajemen waktunya handal, InsyaALLAH semua waktu akan berjalan dengan manfaat.

Pesan terakhir di postingan saya kali ini: buat yang tinggal di Jakarta, hmmm… ayo manfaatkan Jakarta sebagai mandrasah untuk mengasah dan meningkatkan kesabaran Anda. InsyaALLAH full manfaat jika bisa jadi ahli sabar. Buat yang ingin ke Jakarta, menurut saya seenak-enaknya rumah orang, kayaknya paling enak rumah sendiri. Seenak-enaknya kampung orang, kayaknya paling enak kampung sendiri. Nah itu artinya, coba donk bangun kampung halaman sendiri, tempat dimana kita di lahirkan dan dibesarkan. Itung-itung balas jasa kepada tanah kelahiran. Kalau semua orang ke Jakarta, lalu siapa yang akan membangun daerah kita masing-masing? Dan nggak usah lagi menyalahkan pemerintah jika program pemerataan pembangunan diberbagai daerah nggak berhasil-berhasil, gimana nggak, lah wong yang punya kampung aja pada kabur ke Jakarta. Semoga bermanfaat.

Advertisements