Archive for December, 2014


Menilai Diri

souce: jaimuliawa

souce: jaimuliawa

Suatu waktu saya pernah menjumpai kejadian-kejadian yang menurut saya patut di pikir ulang. Soal menilai diri. Soal menilai anda adalah siapa.

Dilingkungan sekitar rumah, ada seorang ibu yang berkoar-koar, membanggakan diri bahwa keluarganya selalu memakai perabot berkualitas. Lain waktu ada pula seorang ibu pula disebuah pesta pernikahan hadir dengan rentetan cincin, gelang, kalung, liontin, layaknya toko emas berjalan, berjalan dihadapan saya dengan gaya borjuisnya. Ketika tengah berbicara, sampailah pada momentum ia membanggakan segala yang dipakainya. Ya cincin, gelang, kalung, dan berbagai aksesoris brandednya itu.

Lain waktu pula ada seorang bapak tua yang ketika kubertanya soal hidupnya, ia cukup menjawab dengan kalimat lugas: Khoirunnas Anfaulinnas. “Mas, saya ini sudah hidup puluhan tahun. Awalnya saya sangat berambisi mengejar kekayaan dunia. Tiap hari pergi pagi pulang malam. Tujuannya ya itu demi mendapatkan apa yang saya inginkan. Ya rumah mewah. Ya mobil mewah. Ya anak-anak sekolah di tempat berkelas. Ya hidup yang jauh dari kata susah. Namun, ada satu hal yang saya baru sadari akhir-akhir ini, di sisa usia ini, di detik-detik menuju alam lain. Yakni soal peran kita. Soal apakah kita sudah bermanfaat untuk orang lain? Itu yang saya selalu lupakan dulu. Mencari rezeki tidak apa, asal jangan melupakan Sang Pemberi Rezeki dan bersyukur sebanyak-banyaknya. Bagaimana caranya? Berbagilah untuk orang lain. Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat toh, kata Rosul?”

Dan soal menilai diri, saya jadi bertanya-tanya, berpikir ulang kembali soal nilai diri saya. Tentang seberapa manfaat saya untuk orang-orang disekitar saya. Soal seberapa banyak yang saya lakukan untuk membangun bangsa ini. Soal seberapa banyak yang saya sudah sedekahkan di jalan ALLAH. Dan soal-soal lainnya.

Soal mereka yang menilai diri mereka dari perhiasan, ya mungkin memang nilai mereka sebatas itu. Soal mereka yang menilai mereka sukses karena suami, anak, atau keluarganya jadi pejabat, direktur, atau apapun itu ya mungkin memang nilainya sebatas itu. Lalu bagaimana dengan kita? Seperti apa nilai diri kita?

Berikut ini ada video yang menurut saya sangat inspiratif. Soal kemanfaatan bagi sesama. Dan lagi-lagi soal menilai diri.

 

 

Advertisements

My Wedding

Peristiwa besar ini terjadi lebih dari setahun yang lalu, tepatnya tanggal 22 September 2013 bertempat di Gedung Intan Balarea, Garut, Jawa Barat. Sekalipun sudah lebih dari setahun yang lalu, namun peristiwa ini akan selalu bersejarah bagiku dan istriku tercinta. Tentu saja. Kupikir kau pun akan mengatakan hal yang sama untuk pernikahanmu. Ya, siapapun akan begitu. Menikah, sebuah momentum luar biasa. Siapa yang daya untuk melupakannya. Sekali seumur hidup harapnya. Maka ALLAH pun menyebutnya sebagai Mitsaqan Ghaliza, ikatan yang kuat. Yang laki-laki akan berubah status menjadi suami. Yang perempuan akan berubah status menjadi istri. Begitupun soal peralihan tanggung jawab. Sang ayah perempuan menyerahkan tanggung jawab berat yang selama ini dipikulnya kepada lelaki bernama suami sang anak. Begitupun sang istri, tunduk patuh dan ketaatan yang tadinya tercurah full untuk kedua orang tuanya pun beralih kepada lelaki bernama suami. Dan sang suami, tentu saja menyadari konsekuensi yang akan diterimanya. Dunia – akhirat.

Sob, ini adalah secuil penampakan gambar alias foto-foto yang berhasil di jepret pada saat pernikahan kami. Mohon doanya semoga rumah tangga kami selalu dilimpahkan keberkahan oleh ALLAH. Dikaruniakan kebaikan berupa anak-anak yang sholeh dan sholeha, rezeki yang berkecukupan, halal, dan thoyyib, dan selalu dilimpahkan sakinah, mawaddah, wa rahmah. Aamiin,

Pelaminan

 

DSC_4877

 

DSC_0007

 

DSC_0049

 

DSC_0121

 

DSC_0287

source: americanbanker.com

source: americanbanker.com

Alhmadulillah, segala puja dan puji selalu dan selalu tercurah untukmu wahai Dzat Yang Maha Esa, Dzat Yang Maha Penyayang, Dzat Yang Maha Berkehendak: ALLAH Azza wa Jalla. Shalawat dan salam juga selalu terlimpah untukmu wahai manusia pilihan, Rosul pengubah peradaban: Rasulullah Muhammad Sholallahu ‘Alaihi wa Salam juga kepada keluarganya, sahabatnya, dan InsyaALLAH umatnya yang setia melanjutkan sunnah beliau.

Tanpa terasa waktu berjalan seperti hentakan kuda yang dipacu oleh penunggangnya di arena balapan. Begitu cepat, cepat, dan tanpa sadar kita sudah sampai dipenghujung tahun masehi 2014. Entah kapan terakhir saya memposting tulisan di blog ini. Sudah lupa. Maklum, usia tidak bisa berdusta 🙂

Dan selama absennya saya dalam mengurus blog ini, telah banyak perubahan yang terjadi disana sini. Dari yang mulanya saya masih jomblo, sekarang sudang punya bidadari dunia-syurga. Wah, yang pasti ceritanya jauh berbeda seperti masih lajang dulu. Obrolannya juga bukan lagi soal “remasan chiki” ala anak muda. Setahap demi setahap mulai serius ke arah punya anak berapa, gimana cari nafkah, mengatasi masalah rumah tangga, gimana membangun hubungan baik dengan tetangga, hingga soal berbagai tugas rumah tangga saat diantaranya ada yang alfa. Ah, benar benar berbeda. Tapi pastinya jauh lebih berwarna dari sebelumnya. Dan apa kamu tahu soal warna? Tentu saja lebih indah, bukan? 🙂

Semoga saja saya bisa konsisten seperti awal-awal membangun blog ini. Tujuannya tiada lagi selain berbagi inspirasi, kemanfaatan, dan setitik ilmu yang saya dapat dari sana-sini. Oh iya, tentu saja juga sebagai wadah saya mencurahkan apa yang saya alami.

Doakan saja ya Sob, agar saya konsisten ngeblog lagi.

 

15 Desember 2014

Sizuki

 

%d bloggers like this: