souce: jaimuliawa

souce: jaimuliawa

Suatu waktu saya pernah menjumpai kejadian-kejadian yang menurut saya patut di pikir ulang. Soal menilai diri. Soal menilai anda adalah siapa.

Dilingkungan sekitar rumah, ada seorang ibu yang berkoar-koar, membanggakan diri bahwa keluarganya selalu memakai perabot berkualitas. Lain waktu ada pula seorang ibu pula disebuah pesta pernikahan hadir dengan rentetan cincin, gelang, kalung, liontin, layaknya toko emas berjalan, berjalan dihadapan saya dengan gaya borjuisnya. Ketika tengah berbicara, sampailah pada momentum ia membanggakan segala yang dipakainya. Ya cincin, gelang, kalung, dan berbagai aksesoris brandednya itu.

Lain waktu pula ada seorang bapak tua yang ketika kubertanya soal hidupnya, ia cukup menjawab dengan kalimat lugas: Khoirunnas Anfaulinnas. “Mas, saya ini sudah hidup puluhan tahun. Awalnya saya sangat berambisi mengejar kekayaan dunia. Tiap hari pergi pagi pulang malam. Tujuannya ya itu demi mendapatkan apa yang saya inginkan. Ya rumah mewah. Ya mobil mewah. Ya anak-anak sekolah di tempat berkelas. Ya hidup yang jauh dari kata susah. Namun, ada satu hal yang saya baru sadari akhir-akhir ini, di sisa usia ini, di detik-detik menuju alam lain. Yakni soal peran kita. Soal apakah kita sudah bermanfaat untuk orang lain? Itu yang saya selalu lupakan dulu. Mencari rezeki tidak apa, asal jangan melupakan Sang Pemberi Rezeki dan bersyukur sebanyak-banyaknya. Bagaimana caranya? Berbagilah untuk orang lain. Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat toh, kata Rosul?”

Dan soal menilai diri, saya jadi bertanya-tanya, berpikir ulang kembali soal nilai diri saya. Tentang seberapa manfaat saya untuk orang-orang disekitar saya. Soal seberapa banyak yang saya lakukan untuk membangun bangsa ini. Soal seberapa banyak yang saya sudah sedekahkan di jalan ALLAH. Dan soal-soal lainnya.

Soal mereka yang menilai diri mereka dari perhiasan, ya mungkin memang nilai mereka sebatas itu. Soal mereka yang menilai mereka sukses karena suami, anak, atau keluarganya jadi pejabat, direktur, atau apapun itu ya mungkin memang nilainya sebatas itu. Lalu bagaimana dengan kita? Seperti apa nilai diri kita?

Berikut ini ada video yang menurut saya sangat inspiratif. Soal kemanfaatan bagi sesama. Dan lagi-lagi soal menilai diri.

 

 

Advertisements