Category: CATATAN HARIAN


My Wedding

Peristiwa besar ini terjadi lebih dari setahun yang lalu, tepatnya tanggal 22 September 2013 bertempat di Gedung Intan Balarea, Garut, Jawa Barat. Sekalipun sudah lebih dari setahun yang lalu, namun peristiwa ini akan selalu bersejarah bagiku dan istriku tercinta. Tentu saja. Kupikir kau pun akan mengatakan hal yang sama untuk pernikahanmu. Ya, siapapun akan begitu. Menikah, sebuah momentum luar biasa. Siapa yang daya untuk melupakannya. Sekali seumur hidup harapnya. Maka ALLAH pun menyebutnya sebagai Mitsaqan Ghaliza, ikatan yang kuat. Yang laki-laki akan berubah status menjadi suami. Yang perempuan akan berubah status menjadi istri. Begitupun soal peralihan tanggung jawab. Sang ayah perempuan menyerahkan tanggung jawab berat yang selama ini dipikulnya kepada lelaki bernama suami sang anak. Begitupun sang istri, tunduk patuh dan ketaatan yang tadinya tercurah full untuk kedua orang tuanya pun beralih kepada lelaki bernama suami. Dan sang suami, tentu saja menyadari konsekuensi yang akan diterimanya. Dunia – akhirat.

Sob, ini adalah secuil penampakan gambar alias foto-foto yang berhasil di jepret pada saat pernikahan kami. Mohon doanya semoga rumah tangga kami selalu dilimpahkan keberkahan oleh ALLAH. Dikaruniakan kebaikan berupa anak-anak yang sholeh dan sholeha, rezeki yang berkecukupan, halal, dan thoyyib, dan selalu dilimpahkan sakinah, mawaddah, wa rahmah. Aamiin,

Pelaminan

 

DSC_4877

 

DSC_0007

 

DSC_0049

 

DSC_0121

 

DSC_0287

source: americanbanker.com

source: americanbanker.com

Alhmadulillah, segala puja dan puji selalu dan selalu tercurah untukmu wahai Dzat Yang Maha Esa, Dzat Yang Maha Penyayang, Dzat Yang Maha Berkehendak: ALLAH Azza wa Jalla. Shalawat dan salam juga selalu terlimpah untukmu wahai manusia pilihan, Rosul pengubah peradaban: Rasulullah Muhammad Sholallahu ‘Alaihi wa Salam juga kepada keluarganya, sahabatnya, dan InsyaALLAH umatnya yang setia melanjutkan sunnah beliau.

Tanpa terasa waktu berjalan seperti hentakan kuda yang dipacu oleh penunggangnya di arena balapan. Begitu cepat, cepat, dan tanpa sadar kita sudah sampai dipenghujung tahun masehi 2014. Entah kapan terakhir saya memposting tulisan di blog ini. Sudah lupa. Maklum, usia tidak bisa berdusta 🙂

Dan selama absennya saya dalam mengurus blog ini, telah banyak perubahan yang terjadi disana sini. Dari yang mulanya saya masih jomblo, sekarang sudang punya bidadari dunia-syurga. Wah, yang pasti ceritanya jauh berbeda seperti masih lajang dulu. Obrolannya juga bukan lagi soal “remasan chiki” ala anak muda. Setahap demi setahap mulai serius ke arah punya anak berapa, gimana cari nafkah, mengatasi masalah rumah tangga, gimana membangun hubungan baik dengan tetangga, hingga soal berbagai tugas rumah tangga saat diantaranya ada yang alfa. Ah, benar benar berbeda. Tapi pastinya jauh lebih berwarna dari sebelumnya. Dan apa kamu tahu soal warna? Tentu saja lebih indah, bukan? 🙂

Semoga saja saya bisa konsisten seperti awal-awal membangun blog ini. Tujuannya tiada lagi selain berbagi inspirasi, kemanfaatan, dan setitik ilmu yang saya dapat dari sana-sini. Oh iya, tentu saja juga sebagai wadah saya mencurahkan apa yang saya alami.

Doakan saja ya Sob, agar saya konsisten ngeblog lagi.

 

15 Desember 2014

Sizuki

 

Mudik 6.0

Tanpa terasa ternyata ini menjadi tahun ke-6 saya mudik (lebaran-red) Jogja-Jakarta. Kalau tahun lalu saya dibersamai oleh 5 teman yang janjian pulang bareng, tahun ini agak berbeda. Saya pulang sendiri. Ya, secara memang hampir semua generasi di angkatan saya sudah pada lulus, atau kalaupun ada yang belum biasanya mereka pulang lebih awal ataupun lebih akhir.

Sekalipun sendiri, bukan berarti mudik kali ini tanpa cerita menarik. Kalau tahun lalu saya dan teman-teman punya cerita unik digoda banci, tahun ini (2012) syukurlah tidak terulang cerita yang sama, sejujurnya saya termasuk yang agak phobia kalau ketemu banci, apalagi banci tekewer-kewer (siapapun yang sering ngelaju Jogja-Jakarta/sebaliknya naik KA Ekonomi tentu sudah hafal sosok banci mahzab ini).

Baiklah, tanpa berbasa-basi lagi, saya akan cerita semuanya dari awal. Begini ceritanya… Continue reading

GOMBALAN ALA GUE

Maaf nih sob, berhubung ane lagi suntuk bin jenuh, jadi ya begini hasilnya…

Edisi 1
Suami    : Aduh Say… aku sesak nafas nih
Istri       : Kamu asma?
Suami   : Enggak Kok.
Istri       : Terus, kenapa bisa sesak napas?
Suami   : Karena separuh napasku ada di kamu

Edisi 2
Istri       : Kok siang ini udaranya panas banget ya, Say?
Suami   : Enggak kok
Istri       : Kamu enggak ngerasa panas?
Suami   : Enggak
Istri       : Masa sih, padahal kamu kan pakai jaket tebal gitu
Suami    : Soalnya, setiap melihat kamu aku merasakan kesejukan

Edisi 3
Suami    : Assalamu’alaykum…
Istri        : Wa’alaykumsalam. Ada apa Say siang-siang begini udah nelpon?
Suami    : Gak apa-apa kok, cuma mau ngasitau di kantor gelap banget
Istri        : Emangnya mati listrik?
Suami    : Enggak kok
Istri        : Lah terus kenapa bisa gelap gitu?
Suami    : Habisnya cahayanya ada diwajah kamu semua sih…

AKU INGIN SEPERTI AYAH

Kala itu, selepas adzan Shubuh di akhir bulan Juli dua puluhan tahun lalu, seorang anak terakhir dari keluarga Muchtar & Rima terlahir. Tangisnya mencabik-cabik kehening Shubuh sambil disambut gelak tawa dan senyum sumringah orang-orang diruangan 3 x 4 meter sebuah rumah sakit kecil di pinggiran Jakarta Barat.

Setahun, dua tahun, tiga tahun, hingga akhirnya sang anak tumbuh menjadi sosok yang berbeda dari kebanyakan anak-anak sebanyanya. Si bungsu senang sekali bercerita, berceloteh, bergaya ala publik figure yang dilihatnya di televisi sehingga membuat orang-orang disekelilingnya selalu tertawa melihat tingkah menggemaskannya.

Diusia ke-5 tahun sang anak tumbuh sebagaimana anak lainnya. Nakal? Ya, mungkin bisa dikatakan begitu. Tapi masih dalam taraf nakalnya anak-anak. Main ini, main itu. Lari kesini, lari kesitu. Sampai diwaktu yang sama dengan detik kelahirannya, selepas shubuh, sang ibu benar-benar dikagetkan dengan tangisan si bocah imut yang terbaring dikamar sempitnya. Sang ibu, masih menggunakan mukenanya—selesai shalat Shubuh—segera menghampiri sang anak. Sang ibu bertanya, “Ada apa, Nak?” si anak pun menjawab diselingi isak tangisnya, “Aku ingin sunat, Bunda!”

Continue reading

Rabithah

by: Izzatul Islam

Sesungguhnya Engkau tahu
bahwa hati ini telah berpadu
berhimpun dalam naungan cintaMu
bertemu dalam ketaatan
bersatu dalam perjuangan
menegakkan syariat dalam kehidupan

Kuatkanlah ikatannya
kekalkanlah cintanya
tunjukilah jalan-jalannya
terangilah dengan cahayamu
yang tiada pernah padam
Ya Rabbi bimbinglah kami
Continue reading

Anak Super Istimewa

Bagi kebanyakan orang dia memang anak yang aneh, menyebalkan, keterbelakangan mental, dan segala sesuatu yang konotasinya negatif. Saya sepenuhnya memaklumi sikap mereka yang seperti itu. Ya, itu karena mereka tidak tahu atau mungkin tidak mau tahu.

Disatu sisi saya, sebagai paman, merasakan sedih yang luar biasa. Bagaimana tidak, ketika ia masih bayi, bahkan hingga berusia tiga tahun, semua masih berjalan normal. Semua masih berlangsung sedemikian biasa. Bahkan banyak tetangga yang suka padanya. Namun, seiring pertumbuhannya, ternyata ALLAH menakdirkan sesuatu yang lain pada anak ini. Ia, dalam bahasa banyak orang, mengalami keterbelakangan mental. Lanjutkan Bacanya Bro/Sis

%d bloggers like this: